Meraih Bintang
“Assalamualaikum”
ucapku memasuki ruang kelas, bukannya mereka menyapaku tetapi mereka
memperebutkan isi tas tenteng yang aku bawa.
“ ini aku dua ya” ucap salah satu dari mereka
“aku ambil dua Fira
tadi juga ambil dua jadinya empat ribu ya” ujar Nindi, sambil menyodorkan uang
seribuan 4 lembar.
“Rik ini aku ya” dan begitulah sampai tas tentengku kosong
tidak berisi apapun namun diganti dengan recehan-recehan yang mereka berikan
kepadaku.
“sembilan belas dua
puluh ribu, Alhamdulillah kembali dengan utuh” dengan wajah yang ceria aku
menata recehan lima ratusan dan seribuan dari teman-teman.
Tidak lama kemudian
muncul suara “selamat pagi anak-anak” ternyata suara guruku
“Selamat pagi pak..”
jawabku serentak bersama teman-teman,
“Lanjut tolong dipimpin
do’a” kata guruku
“sebelum kita memulai pelajaran mari kita
berdo’a sesuai dengan keyakinan masing-masing, berdo’a mulai” ucap ketua
kelasku.
Selesai itu guruku
langsung membahas pelajaran dan aku akan berusaha mendengarkan dan
memperhatikan pelajaran agar menjadi murid yang pandai, itu adalah cita-citaku
waktu TK tapi untuk sekarang tetap menjadi prioritas, agar orang tua kita
membayar tidak rugi.
Itu adalah awal mula
aku berbisnis kecil-kecilan ketika SMP kelas 8, selain berbisnis aku juga
mendapat motivasi dari ke dua orang tuaku berjualan gorengan dan setiap pulang
sekolah aku harus membantunya, sehingga akar-akar kebisnisan didalam hatiku
mulai muncul.
“kalian setelah lulus
SMP ingin ke SMK atau SMA?” Tanya guruku BK.
Lalu dalam benakku
memilih ke SMK karena kita akan mendapat bekal untuk siap bekerja pikirku kelak
aku tak akan mampu kuliah karena orang tuaku hanya seorang penjual gorengan di
pinggir jalan di desaku. Disinilah aku di jelaskan mengenai SMA dan SMK. Aku
tetap memutuskan untuk masuk di SMK, setelah aku melihat semua kemampuan, minat
dan bakatku yang paling unggul adalah nilai matematika dan jika berbicara
tentang bisnis tentunya akan masuk di akuntansi. Setelah berpikir panjang lebar
aku menetapkan pilihan masuk SMK jurusan akuntansi.
Sepulang
sekolah bukannya aku membantu ibuku untuk mempersiapkan gorengan di warung
namun aku langsung menuju kekamar. Kuketuk keyboard dengan mengetik sesuatu
didalam google dengan internet yang sangat lambat, maklum waktu dulu aku hanya
menggunakan modem yang berisi paket data 1GB untuk sebulan, dan itupun aku
dapatkan dari berjualan changgai yang setiap harinya mendapat untung 3000 dan menyisihkan sedikit uang sakuku untuk
membeli itu. Dengan menggunakan computer yang dibelikan ibuku sewaktu aku
kecil, aku dapat mencari tahu tentang akuntansi, karena sebenarnya aku belum
sepenuhnya mengetahui apa itu akuntansi.
“Rika tolong petisnya
di isi diplastik ya, ibu mau ke warung ngantar pisang goreng” teriak ibuku
“ya bu, bentar Rika
ganti baju dulu..” jawabku.
Namun aku belum
melakukan perintah ibuku aku tetap mencari-cari artikel tentang sekolah SMK
dengan jurusan akuntansi agar kelak aku tidak salah masuk jurusan. Setelah
mendapat beberapa informasi dan sudah aku simpan semua, aku membantu ibuku ke
warung dengan ayah yang juga ada disana. Dan sampai disana hanya ada ayah,
sedang ibu masih ke rumah pak Eko untuk mengantar gorengan. Lalu aku membantu
ayah untuk menata gorengan di Loyang. Tiba-tiba ayah bertanya padaku tentang
kelanjutan sekolahku.
“kamu nanti setelah
lulus SMP mau sekolah kemana” Tanya ayahku dengan suara yang serius
“ke SMK pak” jawabku
sedikit ragu.
“kalau pilih sekolah jangan asal-asalan,
sekolah itu bayarnya mahal, kalau kamu tidak serius kamu apa gak kasian sama
bapak?”
“iya pak, insyaAllah Rika akan serius dengan
pilihan ini, karna Rika mau ambil jurusan Akuntansi” jawabku dengan nada lirih
“kenapa gak di jurusan
masak aja?” Tanya ayahku lagi,
“pak meskipun Rika hobi
masak, tapi bukan itu yang Rika inginkan. Rika ingin kelak menjadi pengusaha,
entah pengusaha di bidang apapun” jawabku
“kalau bisnis ya di
pemasaran saja, akuntansi itu harus kuliah dan bapak tidak akan mungkin bisa
membiayai kamu ini adikmu saja mau lahir, bapak masih bingung juga mau cari
pinjaman. Menjadi penjual gorengan itu keuntungannya sedikit kalau hanya
berjualan di desa. Apalagi desa seperti kita ini, jarang mereka yang suka
jajan, karena kebanyakan prinsip orang-orang di desa ini berhemat” ujar ayahku.
Disituasi seperti
inilah yang membuatku menjadi bingung, bukan hanya bingung kuliahku tapi
masalah ekonomi yang akhir-akhir ini menurun di keluargaku.
Dihari minggu ini
karena tugas semua sudah selesai aku ingin menggunakan kesempatan ini untuk
mencari pekerjaan sampingan. Dengan mencari di internet aku mengetik “bekerja
sampingan ala anak sekolah SMP” dan dari situ muncul banyak pilihan dari tips
dapat uang dengan bekerja sampingan untuk anak SMP, akupun memilih yang paling
atas kursor aku klik dengan tombol di mouse hitam pada genggaman tanganku.
Setelah aku klik disitu banyak contoh-contoh kerja sampingan seperti menjadi
penulis, jasa pengetikan, berjualan camilan, berjualan stiker, dan berjualan
sesuatu yang bikin hits. Lalu kubaca semua dengan teliti, selain di blog itu
aku juga membaca yang lain. Dari sini aku mulai memilih untuk berjualan stiker
karena modalnya cukup murah seperti printer aku sudah punya dan computer juga
sudah ada tinggal mencari gambar-gambar yang pas untuk dijadikan stiker dan
jika dijual mungkin peminatnya anak-anak, jadi aku pikir nanti bisa aku
titipkan ke adik sepupuku.
Pada
hari ini aku punya rencana untuk belanja kebutuhan untuk berproduksi stiker,
seperti kertas stiker. Setelah pulang aku mencoba atu untuk di rpint dan
hasilnya pun bagus. Di situ mulai banyak yang pesan hingga aku kualahan. “
mungkin ini jalannku untuk sukses muda “ pikirku sambil menggunting stiker
untuk pesanan selanjutnya.
Tapi lambat laun
pesanan stiker menurun akibatnya mereka sudah mempunyai banyak koleksi dan
target ku pun juga sudah habis, dan bahan-bahan semua masih banyak aku bingung
bagaimana ini. Dikondisi seperti ini juga orang tua ku berhenti untuk berjualan
gorengan karena adikku yang diperut ibuku sudah hampir lahir, semua kondisi
ekonomi keluargaku mulai turun drastis. Sehingga aku harus berfikir agar aku
bisa mengatasi semua ini
“ Ya Allah mengapa kondisi
seperti ini kau jadikan satu, apakah aku sanggup untuk menjalaninya” aku terus
berdoa dan mencari-cari kerja sampingan lain, yang mungkin tidak perlu
membutuhkan modal.
Matahari mulai surut
dan kegelapan di awan-awan mulai muncul, kursi coklat dengan kayu yang sudah
rapuh kududuki bersama dengan Icha, dia adalah tetangga dekat rumahku.
“gimana usaha stikermu
masih lancarkan?” Tanya Icha dengan menatapku.
“masih tapi sedikit ada
kendala, banyak stiker di rumah tapi sudah tidak laku lagi” jawabku sedikit
sedih
“oh begitu, lalu
bagaimana kelanjutannya?” Tanya Icha lagi
“entahlah aku sedikit bingung dengan semua
kondisi ini” sedikit mengeluarkan tetesan air mata, lalu kuusap dengan baju
kumuhku.
“sudahlah jangan larut
dalam kesedihan, mungkin ini awal kesuksesanmu” kata Icha dengan memberiku
senyum.
“ bagaimana kalau kamu
kerja dirumahku?” Tanya icha padaku
“hah..” jawabku sedikit
kaget.
“kerja apa cha?”
tanyaku sedikit kepo.
“menyetrika semua
baju-baju keluargaku, menyapu, dan membersihkan kamarku” jawab Icha.
“kamu serius?” kutanyakan
lagi
“ya seriuslah ka…, tapi
gajinya dari aku sendiri mungkin cuma 4000per pekerjaan semua, karna kamu tahu
sendirikan ibuku itu bagaimana?” ujar Icha
“iya gak papa kok, yang
terpenting aku ada masukan, meskipun itu sedikit” jawabku dengan gembir.
Ya
ibunya icha itu pelit, meskipun dia kaya tapi dia jarang mau berbagi dengan
orang lain. Tidak lama kemudian aku langsung bergegas ke rumah Icha karena
ibunya sedang ada arisan, ini adalah manfaatku untuk bekerja.
Setiap
hari sabtu kulakukan pekerjaan itu, meski hanya 4000 per minggu aku
mengumpulkannya, setidaknya aku akan punya modal untuk mendirikan usaha lagi.
Sampai
5 bulan aku mekukan pekerjaan di rumah Icha. Dan aku memutuskan untuk berhenti
dari pekerjaan itu, karena kurasa modal ini cukup untuk mendirikan usaha lagi.
Aku memiliki ide untuk berjualan es capucino cincau dengan modal 80.000 aku
bisa berbelanja kebutuhan untuk berjualan capucino cincau. Karena aku juga
sudah punya blender, yang sebenarnya itu punya ibuku setidaknya nanti jika itu
berjalan dengan lancar aku akan beli sendiri. Selain aku berjualan capucino
cincau aku juga punya menambahkan menu lain yaitu es regain, es yang berasal
dari jelli rasa kelapa muda dengan kuah dari es kemasan. Aku tata semua di depan
rumah dan ku beri tulisan “JUAL ES CAPCIN DAN REGAINS”. Kutunggu pembeli
datang, namun sampai jam 11 belum ada yang beli, ya aku tunggu inilah menjadi pengusaha harus
sabar. Tidak lama kemudian bibiku datang membeli es capcin 2 bungkus, aku
sangat senang sekali kulayani dengan sepenuh hati. Dan kemudian pamanku juga
datang membeli es regain dan capcin sungguh hatiku tambah senang dengan
banyaknya pembeli meski itu masih dari sanak keluargaku sendiri. Selanjutnya
sepi lagi, namun aku tidak patah semangat dan aku tetap menunggunya. Sampai
sore pun belum ada pembeli lain, ya terpaksa aku tutup warung ini untuk
berlanjut ke hari besok.
Pulang
dari sekolah setelah ku sisakan uang jualanku changgai aku bergegas ganti baju
dan menyiapkan jualanku sore hari ini. Namun sampai matahari terbenam pun hari
ini tidak ada yang membeli es ku aku tetap harus bersabar. Hari esoknya masih
sama seperti biasa sepi. Dan sampai satu minggu, dan karena cincaunya hampir
expaied jadi aku turunkan harga yang dulunya 3500 per cup sekarang aku jual
menjadi 2000 per cup. Namun yang membeli tetap sanak keluargaku, mungkin apa
mereka kasian lalu mereka membeli entah aku juga tidak tahu. Hari setelah
kuturunkan harga es capcin tetap saja tidak ada yang membeli sampai tiga hari
berturt-turut, dank arena aku takut jika cincau ini expaied maka aku sudahi
berjualan ini. Dan aku bagi-bagi es pada keluarga-keluargaku. Dari pengalaman
yang ini aku sudah sangat terpuruk dan putus asa untuk bercita-cita berjualan
dan berwirausaha.
Kuoleskan
tinta bewarna hitam di selembar kertas, kutuliskan semua curahan hati ini. Dari
awal usaha penjualan stiker, bekerja serabutan, sampai berjualan es. Kutulis
kegagalan-kegagalan yang kualami. Namun dalam hati ini masih terasa sakit, lalu
kumenangis meratapi semua ini. Sampailah aku tertidur malam itu dengan bantal
kertas yangku oret-oret tadi.
Pagi
ini aku harus mengawali hari dengan lembaran baru. Namun aku tetap berjualan
changgai karena meski dapatnya sedikit aku harus tetap mencari pemasukan.
“Rik,
kamu kenapa?” Tanya Siti
“mmmm
gak ada apa-apa kok” jawabku dengan senyum sedikit terpaksa.
“tapi aku gak percaya,
pasti kamu punya masalah ya?, gak papa kalo kamu mau cerita sama aku, siapa tau
nanti aku bisa bantu” kata Siti (dengan mendayuh sepeda menuju kesekolah)
“iya Sit” jawabku.
Disaat sampai di
gerbang sekolah aku melihat kakak kelas, dia berbeda denganku dan lain. Dia
memiliki kekurangan yaitu badannya kecil sehingga untuk berjalan sedikit susah,
namun dia tetap semangat memasuki sekolah. Dia tidak malu justru setelah
kuamati dia sangat berprestasi di bidang catur, karena waktu lomba catur dia
juara 1. Setelah ku mengamati itu semua aku sadar aku tidak boleh larut dalam
kesedihan ini. Karena dengan aku putus asa semua tidak akan mudah untuk dicapai
dan aku teringat dari kata-kata Icha sewaktu sore hari tempo lalu, bahwa
kegagalan dapat dinilai menjadi awal permulaan sukses.
Dari situ kumulai tarik
bibir untuk senyum dan memulai aktivitas
terbaruku, mungkin nanti jika Allah sudah menghendaki akan datang hidayah ide
untuk berusaha kembali pikirku.
“waduh-waduh sudah gak
beres ini kamu Rik” ucap Siti sambil memandangiku
“gak beres apanya sih?”
tanyaku pada Siti.
“ayoklah ke kelas, ini
temen-temen sudah nunggu changgai ku. Kalau kamu ingin tetap di parkiran aku
duluan ya..” ajakanku pada Siti untuk mengalihkan pembicaraan dan kutarik
tangannya.
1
tahun kemudian
Semenjak kelas 3 SMP
ini aku jarang berjualan dan bekerja, karena aku ingin focus untuk Ujian
Nasional kenaikan ke SMA/SMK. Dan dibulan setelah semester ini banyak
pendaftaran siswa baru sehingga aku juga sibuk mengurus berkas-berkasku.
“Akte, KK, raport, pas
foto sudah lengkap. Sekarang masih ada yang kurang” kataku sambil menata
berkas-berkas diatas meja kelas dengan segerombbolan temanku.
“kurang apa?” kata Dita
“iya kurang apa sih,
coba aku lihat brosurnya dulu..” lanjut Pegi dengan membuka satu persatu
berkasnya
“Ya ampun.. biasa aja
kali.. jangan gugup gitu. Kita sudah menyiapkan semua namun untuk pasrahnya
kita belum persiapkan yaitu berdo’a “ jawabku
“oooooooo……” jawab
mereka dengan bersamaan.
“mari kita berdo’a
semoga dimudahkan segalanya dan bisa masuk ke Sekolah ini” ucapku dengan
menadahkan tangan sambil berdo’a.
Setelah selesai kami
pun berangkat mengumpulkan berkas dan menunggu pengumuman 3 hari kemudian.
Setelah lama menunggu,
iya lama menurutku karena satu hari saja 24jam kalau tiga hari bisa 72jam. Dan
semua itu hanya bisa kupsrahkan yang diatas. Aku dan teman-teman berangkat
pukul 6 pagi. Namun gerbang masih ditutup sehingga harus menunggu lama. Dan
ternyata sampai disana diberi tahu bahwa jam pengumumannya jam 10 pagi, dan
akupun harus menunggu selama 4 jam. Karena harus menunggu sehingga aku gunakan
waktu itu untuk jalan-jalan mengelilingi sekolahan ini.
Setelah kami lelah
mengitari seluruh pelosok sekolahan SMKN 2 BLITAR aku dan teman-temanku duduk-duduk di depan gerbang lagi
untuk menunggu pengumuman karena jam juga sudah menunjukan pukul 09.00 semua peserta pendaftar juga sudah datang,
kalau dihitung-hitung hampir 1000 anak yang mendaftar kesekolahan SMKN 2 BLITAR
ini.
Pak satpan telah menata
papan pengumuman yang ditutup dengan kain bewarna hitam, dengan hitung mundur “
3 2 1…” kata pak satpam kain tersebut dibuka dan semua mencari nama-namanya
sendiri. Ada yang membaca gembira ada juga yang memasang wajah sedih sampai ada
yang pingsan. Membuatku semakin takut, karena mereka yang berasal dari kota
saja tidak diterima bagaimana denganku.
“Rik tuh liat anak kota
banyak yang nangis, trus gimana dengan kita?” Tanya Pegi padaku dan
teman-teman.
Kami masih di samping
gerbang bewarna hitam, karena disana masih ramai dan juga mereka berbadan
tinggi-tinggi, sedangkan aku hanya bisa termenung diam karena aku sadar diri
bahwa aku pendek dan melebar sehingga untuk bisa melihat pengumuman itu
membuatku seperti akan bunuh diri jika tidak mengantri. Dan tidak lama kemudian
sudah agak sepi, ku mulai langkahku bersama teman-teman menuju papan misterius
itu. Ku pegang tangan Dita temanku, agar menguatkan hatiku untuk selalu yakin
bahwa aku bisa masuk ke sekolah ini. Tepat didepan papan ini ku baca dari atas
ke bawah dengan teliti dan saksama, kucari dari nama sekolah sebab jika
menggunakan namaku akan sulit dan mungkin nama Rika yang mendaftar tidak hanya
satu atau dua namun bisa lebih.
“Aku gak keterima” kata
Dita dengan lirih
“aku juga”lanjut Pegi
Mendengar itu semua
membuatku takut, namun kertas yang kubaca hampir habis namaku belum ketemu.
“Rik…” panggil Siti
dengan senang
“apa sih Sit, bentar
ya..” aku masih focus melihat nama-nama ini
“kamu salah cek..” jawab
Siti dan menarik tanganku
“nih liat ada namamu,
tadi kamu salah liat di bagian kota” ucap Siti sedikit menertawakanku
“Alhamdulillah…” air
mata ini menetes dan ku peluk teman-temanku. Dalam hati aku berfikir apakah ini
keajaiban, keberuntungan, atau takdir. Ah biar saja mungkin ini memang sudah
jalanku.
“selamat ya Rik” kata
Pegi sambil memelukku
“selamat ya… cie udah
dapat sekolahan baru” imbuh Dita
“makasih semua, ini
perjuanagan kita bersama. Dan jika kalian belum ke trima disini besok masih ada
jalur lain. Kalian harus tetap semangat dan selalu berdo’a kepada Allah, agar
setiap langkah kalian diridhoi oleh-Nya” kataku sambil kupeluk lagi mereka.
Selesai ini kami pulang
kerumah masing-masing. Di rumah ayahku belumpulang kerja, hanya ibuku saja dan aku
beri tahu tentang itu. Ibuku senang dan memberiku semanagat karena jalanku
masih belum selesai.
Saat
menjadi murid baru di SMKN 2 BLITAR
Setelah
menempuh beberapa jalan, dari Try out sampai ujian nasional dan sekarang sudah
memasuki ajaran baru. Dengan tempat yang berbeda. Disini aku harus mulai bisa
beradaptasi dengan semua teman-teman baruku. Seperti biasa memasuki awalan
sekolah selalu diadakan MPLS disitu mulai kucari teman-teman baru. Teman baruku
bernama Rumsi, Riski, dan Reza itu kami berempat selalu bersama karena yang
lain belum juga kenalan.
Selesai
MPLS ada pembagian kelas dan aku masuk di kelas Akuntansi 3. Ya karena namaku
berawalan R jadi mendapat kelas yang belakang. Awal memasuki kelas aku juga
harus beradaptasi lagi karena berbeda dari gugus yang lain.
“kamu
Rika kan, sini duduk sama aku ya. Soalnya aku juga sendiri ini” kata salah satu
teman SMPku namun aku tidak kenal dia sebelumnya, yang ku tau hanyalah seragam
kita sama.
“oh
iya, kamu siapa kok kenal namaku” tanyaku pada dia sambil menyodorkan tanganku
padanya
“Aku
Yulia Puspitasari, aku teman satu kelasnya Siti. Biasanya Siti juga cerita sama
aku tentang kamu ya jadi aku tau kamu hehehe..” jawab dia sambil senyum-senyum
gak jelas.
Awal
ku tau Yulia sepertinya dia orang yang gak jelas karena dia juga sedikit nakal
sepertinya. Dilihat dari penampilannya yang memakai bedak tebal, lipstick dan
lain-lain. Dan akupun harus waspada karena dunia SMK itu sangat rawan.
Memasuki
awalan pelajaran ada maple yang berhubungan dengan bisnis, ini lah yang ku
tunggu-tunggu. Disini aku diberi tugas untuk berjualan. Sehingga nantinya akan
mendapat nilai jika aku terus berjualan. Pada awal ini aku menjual es lilin
yang kubuat rasa Belimbing. Permulaan kutawarkan keteman sekelas dan hanya
dikelas saja langsung habis. Selanjutnya aku membuata inovasi baru yaitu es
rasa tape, karena kesukaanku tape. Itupun juga makin laris, kugeluti usaha ini
denagn senang hati. Karena yang kudapat juga lumayan per es lilin mendapat laba
200 rupiah dan setiap harinya aku membawa 30 buah es lilin. Sehingga jika
ditung mendapat 6000, bisa untuk jajan di sekolah. Lama-kelamaan teman-teman
sudah mulai bosan, sehingga aku harus berganti jualan dan aku ganti dengan
nugget tahu yang ku dapat resep dari internet. Disitu laba yang kudapat
dihitung-hitung sangat besar karena jika membuat sendiri nantinya juga bisa
dimakan sendiri.
“yok
teman-teman ada yang baru ini aku jual nugget tahu Cuma 500an. Sayang perut
sayang perut” kata ku sambil mengelilingi bangku-bangku teman-teman ku.
Lama
kelamaan pula merek semakin bosan dan aku kehabisan ide. Disaat itu kuputuskan
untuk berhenti berjualan karena aku juga sudah memasuki kelas 11 untuk Kerja di
lapangan atau biasa disebut dengan PKL. Selain alas an itu juga, karena banyak
tugas yang diberikan dari guru-guru, yang memburu waktu 3 bulan dalam 1
semester. Aku focus pada belajar agar tidak menyesal dikemudian hari.
Memasuki
awal prakerin aku ditempatkan di Pegadaian. Awalnya aku bingung apa sih
pegadaian itu. Ya jika aku bingung sekarang sudah mudah untuk mengetahui itu
semua hanya tinggal buka HP dengan membuka aplikasi Google, namun dengan syarat
harus punya kuota. Kubaca dari awal hingga akhir namun aku tetap belum faham.
Mungkin nanti disana aku juga akan diberi bimbingan pikirku.
Pukul
6 pagi aku berangkat bersama teman-teman. disana masih tutup dan hanya ada
satpam.
“Selamat
pagi pak, kami dari SMKN 2 BLITAR mau prakerin disini, kalau boleh tau jam
berpaa bukanya?” Tanyaku pada satpam karena disana masih sepi belum ada
persiapan apapun
“ini
bukanya nanti jam 8, kalian tunggu saja.” Jawab pak satpam
Kami
harus rela menunggu 2 jam. Rasa kebosanan pun mulai datang, dan ku hilangkan
dengan ngobrol bercanda dengan teman-teman. sampai tidak terasa Bu Diani
Pembina kami di Pegadaian datang.
“selamat
pagi bu, kami dari SMKN 2 BLITAR, yang akan PKL disini.” Kataku dan tema-teman
serempak
“oh
iya ayok masuk” jawab Bu Diani.
Disini
aku harus bisa beradaptasi dengan lingkungan luar yang berbeda dengan
sekolahan. Kata guru pembimbingku aku dan teman-teman harus waspada karena ini
tempat keuangan, harus tetap menjaga keamanan diri sendiri.
Di
bulan-bulan Prakerin ini aku sangat bosan, hanya berangkat pagi pukul 8 lalu
pulang pukul 4 sore. Dan setelah itu tidak ada kegiatan lain, lalu saat malam
hari aku main kerumah kakakku. Dan melihat kakakku membuat tas rajut dari tali
kur. Lalu aku juga belajar agar waktu longgarku ini bisa bermanfaat. Tapi jika
kupikir-pikir untuk berjualan tas nanti peminatnya harus orang yang memiliki
uang banyak, seperti ibu-ibu. Dan pastinya saingannya akan banyak, untuk
belajar merajut saja harus butuh waktu 1 mingguan. Aku harus mencari ide lain.
Seperti
biasa kucari inovasi melalui internet. Apa saja yang bisa dibuat dengan tali
kur ku lihat di google dan muncul banyak sekali, seperti tas, sepati tempat
minum, dan gelang. Dari semua itu yang paling mudah untuk belajar dan mudah
mendapat peminat adalah gelang. Dengan uang saku yang kudapatkan, ku belikan
tali-tali rajutan dan ku lihat tutorial-tutorial di youtube.
Salah
satu temanku tertarik untuk bergabung di usaha ini, dan kami sepakat untuk
bekerja sama. Aku dan Defi saling bertukar ide satu sama lain dan saling
menawarkan ke orang lain. Aku bagian di online dan Defi di offline. Di usaha
ini lumayan berjalan lancar dan mendapat untuk yang lumayan, sampai 3 bulan
selama prakerin kudapatkan uang tambahan ini. Namun namanya bisnis selalu naik
turun, seperti ceritaku waktu jualan stiker dan disini terjadi lagi setelah
laris manis semua sudah punya koleksi sekarang kehabisan pelanggan. Aku dan
Defi pun berhenti dari usaha ini meski masih banyak bahan-bahan yang belum ku
buat.
Tidak
terasa aku sudah memasuki kelas 12, yaitu akhir dari sekolah atau akhir menjadi
pelajar. Disini keseriusan mulai muncul. Persiapan-persiapan untuk masa depan
harus dirancang sebaik mungkin agar tidak salah arah dan menyesal. Seperti
biasanya di mata pelajaran Kewirausahaan harus membuat produk makanan dengan
berbeda dari sebelum-belumnya karena disini kita harus memodifikasi suatu makan
menjadi makanan lain. Dan karena hidayah Allah aku mendapat ide untuk membuat
opak ampok, karena bahannya mudah, peminatnya bisa banyak, untuk sarana
pelestarian budaya Indonesia. Dan di usaha ini ku fikirkan resiko kelak karena
dari usaha-usahaku sebelumnya yang
kucoba berkali-kali hinga jatuh bangun dan dari pengalaman itu sungguh
berarti bagiku untuk membuat yang lebih baik. Pada diskusi tentang perencanaan
usaha ini, karena ini tugas kelompok jadi semua harus dipertimbangkan bersama.
“bagaimana
teman-teman untuk pembuatan opaknya itu kita pakai gulungan atau pengeprek
opak?” tanyaku pada teman-teman lain.
“pakai
gulungan saja yang nantinya bisa merata dan hasilnya lebih bagus” jawab Silviana
“
oh iya untuk kemasannya kita pakai apa?” Tanya Ulfa
“kita
pakai plastic biasa yang nantinya kita bentuk bisa berdiri, dan nanti stikernya
kita buat standar saja, jangan besar-besar agar produk kita kelihatan.” Jawabku sambil menggambarkan skema di selembar
kertas.
“iya
setuju aku begitu saja.” Imbuh Ratih.
Dan
sampai dihari H nya kami sudah membuat produk itu, sebelum kami jual. Aku dan
teman-teman melakukan tes layak jual kepada guru Pembimbing kami.
“ini
kerupuk apa?” Tanya guru KWU
“kerupuk
nasi jagung bu, itu kami mendapat inovasi dari nasi jagung. Karena nasi jagung
hampir tidak disukai oleh para remaja, dan saya pikir jika mereka tidak
menyukainya bisa-bisa makanan ini akan hilang dan bahkan bisa diklaim Negara
lain. Sehingga untuk membantu pelestarian ini kami mencoba membuat produk ini
agar disukai oleh remaja, kita buat sesuai perkembangan dengan menambah variasi
rasa pedas, keju, dan original.” Jawabku, karena aku dipilih sebagai juru
bicara di kelompok ini.
“oke
dari segi rasa sudah layak untuk dijual, namun untuk pengemasannya lebih cantik
kalau dikasih tali begitu jadi untuk membawanya mudah tanpa menggunakan kresek
ya. Nanti kalau sudah berjalan dengan lancar terus dikembangkan. Jangan sampai
peluang kalian ini hanya berhenti sampai tugas ini selesai. Produk saya liha
punya prospek kedepan yang lebih baik karena bisa meningkatkan produk-produk
dalam negeri. Dan saya yakin jika kalian mau berusaha dan berdoa maka Allah
akan menjadikan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin” nasihat dari guru
KWU padaku dan teman-teman.
5
tahun kemudian
Dengan
pengalaman-pengalaman yang ku dapat dari SMP hingga SMK dan sampai lulus kuliah
aku mendapat hikmah yang sungguh luar biasa, berkat ku coba semua usaha-usahaku
hingga dari kecil-kecilan sampai sebesar ini. Seperti kata guruku waktu lalu
sesuatu yang tidak mungkin akan menjadi mungkin jika kita terus berusaha.
Disini
aku menjadi pengusaha opak ampok dengan produk yang sudah mendapat ijin bpom P-IRT dan cap halal dari MUI. Semua ini
tidak lepas dari doa yang selalu kupanjatkan kepada Allah SWT yang telah
meridhai semua usahaku, yang telah meluruskan langkahku, dan menjadikanku
wanita karir yang sukses muda. Dan juga orangtuaku yang selalu mendukungku,
setiap percobaan makanan selalu mengeluarkan biaya, dari semua bahan-bahan
masakan ku buang-buang untuk mencoba hal-hal baru dan telah menciptakan ini.
Serta teman-teman dan kerabat-kerabatku yang menjadi pembeli utamaku. Tanpa
mereka-mereka disini sekarang aku bukan siapa-siapa.
Selain
aku punya usaha opak ampok, aku juga jualan opak-opak buah yang terispirasi
dari rujak buah dan asinan-asinan yang berasal dari Bogor. Juga opak sayur yang
terinspirasi dari gado-gado. Disini tujuanku adalah meningkatkan produk-produk
dalam negeri agar makanan dan tradisi orang Indonesia tidak di klaim oleh
Negara lain, selain itu untuk mengurangi-mengurangi pengangguran. Dan sekarang
semua keinginan itu sudah terpenuhi, hanya aku harus menjaga semua ini. Dan
salah satu yang harus kujaga adalah Imanku.
“Do not become despondent when things go against your desires, just pray
and struggle that’s how islam will teach you”
Dan inilah yang telah
kuraih sebuah bintang yang berpancar lima seperti pancasila. Bintang ini
kupersembahkan untuk semua orang semua warga Indonesia, semua saudaraku.
Serut, 06 September 2018
Penulis
